Toko Al-Quran Online
Parenting

Aku Wariskan Moral Bagi Anakku (Buku)

“Suatu saat saya dan anak laki-laki saya membeli engsel pintu di sebuah toko bangunan, namun waktu sesampainya di rumah ternyata  jumlah sekrupnya kelebihan satu. Anak saya yang ketika itu masih duduk di bangku SD meminta saya untuk mengembalikan satu sekrup itu, bahkan dia menawarkan diri untuk mengembalikannya ke toko. Saya merasa terharu dan bersyukur pada Allah karena kejujuran telah tertanam baik dalam jiwa anak saya.

Kejadian yang juga mengharukan sekaligus membahagiakan terjadi pada perempuan saya yang duduk di kelas III sebuah SMA Negeri di Surabaya. Sepulang ujian dia mengatakan dikucilkan teman-teman sekelasnya karena tidak mau diajak tidak jujur dalam mengerjakan ujian nasional. Sebelum ujian, teman-temannya berlatih mensimulasikan cara mencontek dan bahkan mereka menyewa joki saat ujian.
Dua kejadian diatas membuat saya dan istri sebagai orang tua merasa bangga, bahagia dan bersyukur karena kami telah mewariskan sesuatu yang berharga, yaitu moral. Dan Kami rasa tidak ada warisan yang paling berharga untuk diwariskan pada ana-anak selain moral.

Buku “Aku Wariskan Moral Bagi Anakku” yang ditulis oleh Ustadz Miftahul Jinan ini semakin meyakinkan saya bahwa moral atau akhlak yang tertanam dengan baik saat anak tumbuh kembang adalah warisan terbaik yang seharusnya kita tinggalkan untuk mereka.

Penulis buku ini berhasil merangkai dengan sederhana tapi indah antara tiga aspek yaitu : psikologi, agama dan pengalamana hidup penulis dalam mendidik anak-anaknya. Sehingga memberikan inspirasi yang mengalir deras bagi yang membacanya tanpa harus mengernyitkan kening mereka.

Seperti apa kesederhanaan, keindahan dan inspirasi dari buku ini? Nampaknya Anda harus membuktikannya sendiri.”

(Drs. Masruri, Direktur Kualita Pendidikan Indonesia (KPI))

.

“Seharusnya semangat mewariskan moral yang dimulai sejak dini memang perlu bagi orang tua melebihi semangat mereka untuk mewariskan harta benda kepada anak-anak. Hal ini agar anak tidak terlantar dan menjadi beban bagi orang lain kelak ketika ditinggalkan. Buku ini mampu menyadarkan kembali akan semangat pewarisan tersebut”

(Jamil Azzaini, Inspirator Sukses Mulia, Pendiri Sekolah dan Pesantren Wirausaha Gratis di Lampung dan Klaten, Direktur Kubik Leadership Training)
.

“Kata orang arif dan bijak : Suatu bangsa itu hanya akan kuat dan jaya bila akhlak mulia menghiasi kehidupan mereka. Bila tidak, tunggulah hari kehancurannya. Rasulpun diutus semata-mata untuk membangun moralitas dan akhlak yang luhur. Dalam konteks makhluk yang bernama manusia semuanya terlahir dalam kondisi fitrah hanifah, suci, dan bersih bagaikan kertas putih tanpa noda.

Berikutnya keluarga dan khususnya orang tualah yang menentukan warnanya. Namun tentunya membangun moral memerlukan kesiapan dalam banyak hal seperti metode dan tekniknya.

Buku ini akan sangat membantu kita semua untuk mewujudkannya. “

.
(Prof. Dr. H.M. Roem Rowi, MA – Direktur Tarbiyah Masjid Al Akbar Surabaya dan Guru Besar IAIN Surabaya)
.
“Buku ini terasa menuntun kita para orang tua dan guru untuk menjalankan misi diutusnya Rasulullah saw ke dunia, sebagaimana dalam sabda beliau : “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak”. Dengan membaca uraian dalam buku ini, kandungan misi Rasulullah saw itu lebih mudah untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari

(Mohammad Zahri, M.Pd, Kepala Departemen Pendidikan dan SDM LPI Al Hikmah Surabaya)

.

“Membangun moral anak sejak dini merupakan langkah cerdas membentengi buah hati kita dari terpaan “angin putting beliung” kemerosotan moral sebagai dampak dari arus informasi global. Kami sebagai orang tua merasa terbantu di dalma mengarahkan putra-putri menjadi anak yang sholih lewat buku ini“

(Choirus Syafrudin, S.Psi, Psikolog dan Konsultan Pendidikan Anak)

.

DAFTAR ISI BUKU
AKU WARISKAN MORAL BAGI ANAKKU
I.    ADA  APA DENGAN MORAL?
•    Penulis mengajak pembaca untuk merenungkan misi mengapa Rasulullah saw diutus dan mengusung misi tersebut untuk merancang bangun keluarga dan rumah tangga kita.
•    Potret kisah-kisah keluarga para shalafush shalih maupun jaman sekarang yang menginspirasi, yang mewariskan tradisi/kebiasaan yang luar biasa bagi anak-anak mereka.
•    Wadah apa saja yang perlu dibangun pada diri anak? Moral apa saja yang perlu ditumbuhkan dan dikembangkan dalam diri anak sehingga ia mampu menjalani keseluruhan hidupnya dengan bertumpu pada wadah tersebut?
•    Apakah benar lembaga pendidikan yang menjadi tumpuan harapan sebagian besar para orang tua untuk mendidik moral anak ternyata malah menjadi perusaknya?
•    Kisah-kisah orang-orang yang sukses karena moral dan karakter mereka

II.    TAHAPAN PERKEMBANGAN MORAL
1.    Attachment (usia 0-2 tahun)
2.    Kemandirian dan Percaya Diri (usia 2-4 tahun)
3.    Otoritas (usia 4-6 tahun dan 6-8 tahun)
4.    Moralitas Teman Sebaya (usia 8-14 tahun)
5.    Moralitas Sosial (usia 14-20 tahun)
6.    Moralitas objective dan Hati Nurani (usia 20 tahun hingga dewasa)

III.    ASPEK-ASPEK PENDIDIKAN MORAL
Penulis menguraikan bahwa aspek pendidikan moral mencakup tiga hal yaitu Moral Knowing, Moral Feeling dan Moral Action yang jika pengertiannya dirangkum ke dalam sebuah kata mutiara, mungkin tepat sebagaimana yang dinyatakan oleh Benjamin Franklin, “Tell me and I forgot, teach me and I remember, Involve me and I learn”

IV.    PANDUAN PENDIDIKAN MORAL BAGI ORANG TUA DAN GURU
Dalam Bab ini Penulis menguraikan beberapa teknik yang dapat dilakukan para orang tua agar bisa supermodel bagi putra-putrinya; Praktek Teknik Membentuk Moral; Teknik Merangkai Moral (Yang merupakan kebalikan dari teknik membentuk moral); Moral mana saja yang menjadi prioritas untuk dibangun dalam diri anak menurut beberapa pakar/ilmuwan moral; Tabel Deskripsi yang akan sangat mempermudah orang tua dan guru untuk membuat kegiatan atau mengaitkan peristiwa-peristiwa yang dialami anak sesuai dengan moral yang akan dibangun.

Leave a Reply