Toko Al-Quran Online
Artikel

Etika Membawa Al Qur’an

Ayat Laa yamassuhuu illal muthahharuun diatas, menerangkan sisi lain dari keagungan Al Qur’an. Para ahli tafsir memahaminya dari dua sisi : Pertama, bahwa dhamir huu pada ayat laa yamassuhuu kembali pada kitab yang di lauhul mahfuzh, dan dengan pengertian ini, kata al muthahharuun –seperti kata Ibnu Abbas- adalah malaikat (lihat Tafsir Ibnu Katsir vol.4, h.465). Pendapat ini dikuatkan dengan ayat :”Di dalam kitab-kitab yang dimuliakan yang ditinggikan lagi disucikan, di tangan para penulis (malaikat), yang mulia lagi berbakti” (QS 80:13-16).

Kedua, bahwa dhamir huu tersebut kembali kepada Al Qur’an dan dengan ini, maka maksud kata al muthahharuun adalah orang-orang mukmin yang suci dari hadats kecil dan besar. Berdasarkan pendapat yang pertama, sebagian ulama fikih seperti Ibnu Abbas, Asy Sya’by, Adh Dhahhak, dan Zaid bin Ali melihat bahwa menyentuh Al Qur’an boleh sekalipun tidak punya wudhu’.

Sementara ulama yang mendukung pendapat kedua menyebutkan beberapa hadits diantaranya, Bahwa Rasulullah saw pernah menulis surat kepada penduduk Yaman berbunyi :”Tidak boleh menyentuh Al Qur’an kecuali dalam keadaan suci(thaahir)” (HR Haitsami, kitab Majma’ Zawaid, sanadnya kuat). Dengan hadits ini, maka jelas bahwa kita tidak boleh menyentuh Al Qur’an kecuali dalam keadaan suci dari hadats kecil dan besar.

Akan tetapi, ulama pendapat pertama masih melihat bahwa kata thaahir dalam hadits tersebut mengandung banyak makna, dapat berarti : suci dari hadats kecil, hadats besar, suci dari najis dan dapat juga berarti seorang mukmin. Artinya, seorang mukmin adalah suci sekalipun tidak punya wudhu’ sebaliknya orang kafir adalah najis. Oleh karena itu Rasulullah saw –seperti dalam riwayat Imam Muslim- melarang untuk pergi ke wilayah musuh (orang kafir) membawa Al Qur’an. Dikhawatirkan kalau nanti mushaf tersebut  jatuh ke tangan musuh.

Dengan ini, seorang mukmin sekalipun tidak punya wudhu’ boleh menyentuh Al Qur’an karena dengan identitas keimanannya, ia telah tergolong suci. Lebih-lebih kata al muthahharuun dalam ayat diatas nampak lebih kuat kalau maksudnya adalah malaikat. Sebab kalau yang dimaksud adalah orang mukmin yang suci dari hadats kecil dan besar     tentu tidak dengan kata al muthahharuun, melainkan dengan kata al mutathahhiruun seperti dalam ayat :  innallaaha yuhibbut tawwaabiin wahibbul mutathahhiriin.

Namun Ibnu Taimiyah memahami nash-nash diatas dari sisi yang lebih hati-hati lagi, “bahwa jika ternyata Al Qur’an yang di langit tidak ada yang menyentuhnya kecuali mereka yang suci,maka seharusnya demikian juga Al Qur’an di bumi”. Pendapat ini mengajak kita untuk menyikapi nash-nash Al Qur’an maupun hadits diatas bukan sekedar dengan pemahaman fikih yang kaku, melainkan dengan ruh iman yang kokoh ats hakikat keagungan Al Qur’an. Bahwa diantara bentuk sikap mengagungkan Al Qur’an adalah dengan tidak menyentuhnya kecuali dalam keadaan suci. Ternyata mayoritas ulama fikih lebih cenderung ke pemahaman ini termasuk Imam Malik, Abu Hanifah dan Asy Syafi’i.

Sungguh, tidak sedikit dari para sahabat Rasulullah saw yang menyuruh anak-anaknya untuk mengambil wudhu sebelum menyentuh Al Qur’an. Jelasnya,  bahwa dalam menyentuh Al Qur’an seorang mukmin seyogyanya dalam keadaan suci dari hadats besar dan kecil. Inilah rahasia mengapa Allah ketika menerangkan makna menyentuh dalam ayat tersebut menekankan sifat  muthahharuun, padahal ada sifat lain yang dapat disebutkan disini, dari sifat malaikat- kalau memang tujuan dhamiir huu untuk malaikat- seperti dzi quwwah, kiramin bararah. Tentu disini ada makna pentingnya sifat suci bagi siapa saja yang ingin menyentuh atau membawanya, baik itu malaikat atau manusia.

Adapun membaca Al Qur’an tanpa menyentuhnya para ulama bersepakat –sebagaimana diceritakan Syaikh Sayyid Sabiq dalam bukunya Fikih Sunnah-membolehkan bagi yang tidak punya wudhu’. Kecuali dalam keadaan junub, haidh dan nifas, mayoritas ulama tetap tidak membolehkannya. Dalilnya sebuah hadits shahih yang diriwayatkan Ali ra., “Bahwa Rasulullah selalu membaca Al Qur’an, kecuali dalam keadaan junub (HR Turmudzi, dikatakan bahwa hadits tersebut hasan shahih). Pun juga boleh jika mushafnya digabung dengan tafsir atau terjemahan atau pembahasan fikih dan lain sebagainya. Hal ini karena Rasulullah saw pernah mengirim surat kepada Hiraklius, di dalamnya terdapat beberapa ayat Al Qur’an (HR Bukari-Muslim). Sebagaimana juga boleh jika membaca sebagian ayat dengan maksud dzikir dan do’a, seperti membaca do’a-do’a yang terkumpul dalam satu buku yang didalamnya terdapat  ayat-ayat Al Qur’an.

Namun demikian, sebagian ulama seperti  Imam Bukhari melihat boleh-boleh saja membaca Al Qur’an bagi wanita yang sedang haidh atau nifas. Alasannya bahwa Ibnu Abbas membolehkan  hal tersebut. Pun seorang ulama bernama Ibrahim melihat  tidak apa-apa bagi seorang wanita yang sedang haidh membaca Al Qur’an. Bahkan, Imam Bukhari menilai bahwa tidak ada hadits shahih yang melarang seorang yang junub atau wanita yg sedang haidh dan nifas untuk membaca Al Qur’an

Apapun perbedaan pendapat ini, yang jelas bahwa mayoritas ulama melihat tidak bolehnya seorang yang sedang berhadats besar dan kecil untuk tidak menyentuh dan membaca Al Qur’an. Toh, kalaupun ada yang membolehkan, itu dapat dijadikan landasan pada saat-saat  kondisi darurat, bukan dalam segala kondisi. Sebab Allah swt –sebagaimana pada ayat diatas- telah menggambarkan pentingnya hakikat dan makna kesucian dalam menyentuh Al Qur’an baik itu bagi para malaikat, apalagi bagi manusia. Bagaimana tidak, sedang Al Qur’an adalah kalamullah (datang dari Allah Yang Maha Suci) tanziilun mirrabil alamiin. Bahkan membacanya merupakan ibadah dan termasuk inti kegiatan dalam shalat.

Sungguh suatu sikap yang tidak bisa dianggap sepele jika kemudian mayoritas ulama berkesimpulan bahwa seorang mukmin yang hendak membaca Al Qur’an harus suci dari hadats besar dan kecil. Allah a’lam bish-shawab.

Dr. Amir Faishol Fath, M.A
Pengasuh Qur’anic Studies Institute (QSI)

One thought on “Etika Membawa Al Qur’an

Leave a Reply