Toko Al-Quran Online
Kisah Penghafal Alquran

“…Hifzhul Qur’an: Modal Berdakwah” (Kisah Nyata)

(Kisah Nyata Ustadz Abdul Aziz abdul Rauf, Lc Al Hafizh-Mudir Lembaga Tahfizh Al Hikmah Jakarta)

Bismillaahirrohmanirrohiim.
Bagaimana saya bisa hafal Alquran 30 juz, menurut saya pribadi itu karunia Allah swt. Karena waktu itu kurang lebih tahun 1977, mulai saya kelas 6 SD sampai 2 Aliyah saya hidup dalam arus ghozwul fikri yang besar. Karunia itu didukung lingkungan yang saya tinggali. Sebanding antara lingkungan yang khair dan syar (baik dan buruk). Yang baik, kebetulan kedua orang tua mengajar Alquran dan cukup gigih untuk mengajar Alquran (kedua orang tua saya tidak hafizh). Dari subuh sampai jam 8, ibu mengajar di rumah, bapak di masjid, begitulah sampai siang dan sore setiap hari. Jadi dari kecil saya sudah diajarkan oleh bapak dan ibu tidak hanya dengan perkataan tapi juga memberi uswah secara langsung. Saya bertiga kakak dan adik sejak kecil diajak mencintai Alquran.

Kebetulan di kampung saya di Jalan Dana karya Surabaya memang sudah banyak acara yang berhubungan dengan Alquran meskipun tidak sesemarak sekarang. Misalnya acara tasmi’ yang di Surabaya orientasinya mengkhatamkan. Tapi kalau di Jakarta tasmi’ itu orientasinya mentadaburkan. Hal ini sangat memacu saya untuk mulai menghafal sehingga waktu itu saya mengkoleksi kaset-kaset para hafidz yang bagus, diperdengarkan di rumah atau saya menghadiri acaranya. Saya berpikir kalau dia bisa hafal kenapa saya tidak bisa, padahal makannya sama. Itu beberapa faktor yang menggugah saya. Orang tua saya sendiri tidak pernah secara langsung mewajibkan saya menghafal Alquran, tapi mereka sering membanggakan para hafizh.
Sekitar tahun 1984, saya mulai menghafal Alquran. Ada satu hal yang cukup menarik yang mungkin bisa dijadikan renungan bagi remaja. Waktu itu saya berpikir pekerjaan apa yang bisa saya lakukan biar jadi kenangan saat saya berusia 20 ke atas, saat dimana saya mempunyai tanggung jawab. Saya melihat tetangga ada yang juara MTQ dengan bangganya memajang pialanya. Saya melihat tetangga yang juara balap sepeda se-propinsi dengan bangganya memamerkan pialanya. Waktu remajanya berhasil mengukir kenangan bagi dirinya. Itulah yang jadi bahan renungan saya. Tentunya saya tidak mungkin jadi juara balap sepeda atau sibuk menjadi juara Qori’. Setelah saya pikirkan lebih dalam, menghafal 30 juz itu yang lebih berarti dan bisa menjadi kenang-kenangan indah di masa dewasa.
Sejak itu saya menghafalkan Alquran dibimbing oleh Ustadz Abdul Aziz Hasanan. Beliau alumni Pesantren Madrasatul Qur’an Tebu Ireng Jombang Jawa Timur. Saat itu beliau baru pertama kali berada di kampung saya. Beliau melihat diri saya berbakat dan beliau antusias untuk membimbing saya. Kurang lebih 6 bulan saya sudah hafal tapi masih dalam tingkat setor saja, maksudnya bukan sampai pada tingkat hafalan yang rosikh (mantap dan lancar). Sejak saat itulah saya dianggap murid yang pertama dari cikal bakal pesantren Tahfizhul Quran Sunan Giri. Alhamdulillah pesantren itu cukup berkembang dan cukup banyak hafizh-hafizh yang dihasilkan.
Godaan setelah itu memang semakin banyak. Sebelumnya kelas satu dan dua, mungkin setiap orang pernah hidup dalam kejahiliyahan. Alhamdulillah setelah kelas tiga, saya dapat mengatasinya. Saya berpikir kalau saya tetap begini betapa banyaknya dosa yang akan saya tanggung. Godaan-godaan itu ditekan dengan hifzhul Quran ini.
Soal lupa saya rasa itu biasa. Lupa itu ada yang alami dan yang non alami. Saya kira orang yang baru pertama kali menghafal lupanya lupa alami, ada juga yang sudah banyak menghafal tapi juga lupa, ini lupa alami. Kalau sengaja tidak mengulang dan tidak bertilawah secara kontinyu ini merupakan lupa yang non alami.
Sehari Hanya Bersama Alquran
Waktu, pada saat itu bagi saya benar-benar merupakan suatu barokah. Dari jam enam saya berangkat sekolah. Kebetulan jarak sekolah harus saya tempuh satu atau dua jam dengan bis kota. Dalam bis itulah saya gunakan untuk menghafal dan memahami makna ayat yang akan disetorkan besoknya. Saya bawa terjemahan, dan sampai sekarang terjemahan Alquran itu masih ada. Kemudian sampai di sekolah ada saja jam-jam kosong dan saya manfaatkan untuk mengulang. Mulai menghafal ayat-ayat yang akan saya setorkan besoknya.

Setelah kurang lebih satu setengah jam istirahat sampai Ashar saya mengajar Bahasa Arab untuk anak-anak. Setelah maghrib, mengulang kembali apa yang saya hafalkan ketika dhuhur. Saat itu juga saya sempatkan zikir dalam bentuk tilawah. Kurang lebih jam 20.00, kegiatan menghafal berhenti, saya mulai belajar pelajaran yang lain. Jam 2 saya bangun dan qiyamullail sambil mengulang apa yang akan saya setorkan besoknya sehingga hafalan itu disetorkan dalam keadaan yang optimal. Disamping itu saya punya program untuk menjadikan hari-hari khusus seperti Hari Ahad sebagai yaumul Quran. Jadi apa yang sudah saya hafal satu pekan diulang sebanyak-banyaknya di hari itu.
Di Jakarta, saya masuk LPBA (Lembaga Pendidikan Bahasa Arab)Yang masih beralamat di Raden Saleh. Saya diijinkan oleh guru saya walaupun sebelumnya beliau cukup ragu dengan keadaan Jakarta apakah saya dapat mempertahankan hafalan. Oleh karena itu, yang pertama saya lakukan adalah mencari teman yang juga hafal Alquran. Saya tinggal bersamanya dan sama-sama menjaga hafalan. Diantaranya saya menjaganya dengan mengkhatamkan Alquran paling lama sepekan. Biasanya sekali tiga hari saya khatam. Tapi satu saat perlu juga mengasingkan diri dalam rangka menjaga hafalan. Saya pernah tinggal di Istiqlal sehari penuh untuk mengulang hafalan saya baik sendirian atau dengan teman yang juga hafal.
Satu hal yang penting bagi calon hafizh, bergurulah pada orang yang sanadnya jelas. Alhamdulillah Ustadz Abdul Aziz Hasanan memberikan semacam kepercayaan kepada saya semacam ijazah berupa sanad, disitu disebutkan saya belajar dari Ustadz Abdul Aziz Hasanan dan Beliau belajar dari Kyai Adnan Ali dan seterusnya sampai kepada sahabat dan Rasulullah saw.
Hal lain adalah penguasaan Bahasa Arab. Alhamdulillah saya sudah cukup lama belajar Bahasa Arab. Tapi bukan berarti tidak bisa Bahasa Arab tidak bisa menghafal. Karena buktinya hampir seimbang yang bisa Bahasa Arab banyak yang tidak hafal, yang tidak bisa Bahasa Arab banyak yang hafal.
Masalah lainnya adalah tanamkan sidqunniyah dan keikhlasan dalam diri kita. Allah swt Maha Tahu akan niat kita. Kadang kita sendiri belum berbuat apa-apa tapi sudah memagari diri dari Alquran. Inilah halangan besar bagi orang yang berniat menghafal Alquran. Mereka berpikir nanti ma’isyah mereka akan terganggu, kuliahnya akan terganggu dan lain-lain. Bahkan ada yang mengatakan bahwa menghafal Alquran itu menganggu dakwah, padahal Alquran itu merupakan modal berdakwah. Ini perkataan yang perlu diluruskan.

Pertama, ia harus cinta membaca dan mendengarkan tilawah. Kedua, sisihkan waktu satu atau dua jam untuk mengutak-atik bagaimana ayat itu bisa berada dalam pikirannya. Ketiga, barulah kita memohon pada Allah swt, Ya Allah permudahlah saya, limpahkanlah taufikMu. Nanti Allah swt akan memberi jalan pada kita. Semakin tinggi niat kita, semakin besar kemungkinan kita untuk bisa menghafal 30 Juz. Misalnya jika sidqunniyah kita hanya 10%, mungkin Allah akan memberikan kemudahan untuk bisa menghafal juz ‘amma saja.

Pengaruh makanan?.  Seorang Muslim dituntut untuk bertaharri (waspada) terhadap makanan-makanan yang haram yang banyak tersebar di sekeliling kita. Seperti sabda Rasulullah saw, meski seseorang sudah terbebas dari riba, dia pasti akan mendapat debunya riba.

Tapi agama itu mudah, addinu yusrun, yasir wala tu’asir, permudah jangan mempersulit. Tidaklah seseorang itu mempersulit diin kecuali ia sendiri hidup dalam kesengsaraan. Jadi, kita berusaha saja sebatas kemampuan dan pengetahuan kita tentang makanan tersebut. Insya Allah, pengaruh makanan itu tidak akan nampak pada saat kita beramal shalih sepeti tahfizhul Quran ini. Seperti yang sudah dicontohkan oleh Imam Syafi’i, beliau berusaha mencari sumber bahan makanan yang halal dalam menjaga hafalannya.

Leave a Reply