Toko Al-Quran Online
Parenting

Meningkatkan Kecerdasan Finansial Si Buah Hati (Buku)

“..Kemiskinan bukanlah semata-mata masalah ekonomi. Kemiskinan adalah masalah karakter atau mental yang dengan demikian penyelesaiannya harus melibatkan proses pendidikan sejak dini, bahkan mungkin sejak bayi masih dalam kandungan. Bila Anda menginginkan buah hati Anda kelak pintar dalam memanfaatkan uang, bekalilah mereka dengan karakter “kecerdasan finansial”.

Judul : Si Kecil Kaya Si Kecil Miskin
Penerbit : Pustaka Progressif
Penulis : Ir. Iman Supriyono, MM
Tebal : 105 hlm
Harga : Rp 19.500 17.900

Seberapa perlukah si buah hati diajari tentang kecerdasan finansial? kecerdasan finansial bisa dilatih sejak dini bahkan sejak usia balita. Melatih sejak dini tentang pentingnya memahami makna finansial akan melahirkan generasi yang beretos kerja tinggi dan mampu mengelola keuangannya dengan nilai manfaat yang tinggi.

Buku ini memberikan bimbingan  kepada para orangtua untuk melatih anak-anak mengenal dan mengelola keuangan. Dengan contoh-contoh praktis yang telah teruji di lapangan akan mempermudah orangtua untuk mengaplikasikannya.

Adalah Ir. Iman Supriyono, MM., seorang konsultan strategic finance, pendiri SNF Consulting yang juga telah menelurkan 8 karya-nya, mencoba berbagi ilmu dan pengalamannya. Kehadiran buku ini juga memberi inspirasi agar mampu keluar dari kemelut finansial yang mungkin selama ini telah membelenggu kita.

Berikut Kami kutipkan sedikit isi dalam Bab pendahuluan :

“Assalamu’alaikum Pak, maaf saya dari pondok pesantren …”.

Seseorang memakai sarung dan baju takwa kumal masuk ke halaman rumah sambil menyodorkan lembaran kertas yang juga kumal berisi daftar sumbangan untuk sebuah pondok pesantren yang lokasinya jauh dari Surabaya (tempat tinggal penulis-web ed). Karena sudah rutin, penulis menyodorkan uang ribuan kepada “tamu tak diundang” ini.

Suatu saat di Pasar Pucang (sebuah pasar tradisional di kota Surabaya) nampak sebuah mobil yang di depannya dipasang spanduk dengan tulisan Arab dan latin “Pondok Pesantren…, Ma’had…”

Itulah mobil pencari sumbangan dengan “sepasukan” pembawa kotak amal berkostum baju takwa yang menyodorkan permintaan bantuan. Mereka bergerilya mendatangi orang demi orang di pasar, tidak peduli apapun agamanya. Aksi mereka dipandu suara seorang “juru penerang” yang berteriak-teriak lewat speaker di mobil yang sesekali melantunkan tembang-tembang sholawat.

Pada kesempatan lain, mobil yang penulis kendarai bersama keluarga di sebuah jalan raya di luar kota harus direm tiba-tiba karena beberapa orang menyita badan jalan melambaikan bendera sambil menyodorkan sebuah kaleng. Terdengar cukup nyaring lantunan syair-syair shalawat disela imbauan untuk berinfak. Tentu saja tak semua pengendara mobil adalah muslim.

Pada kesempatan lain di sebuah forum, penulis bertemu dengan seorang insinyur alumnus sebuah perguruan tinggi ternama. Insinyur ini menceritakan nasibnya yang lebih dari tiga tahun lulus tidak kunjung mendapatkan pekerjaan. Mengalir pula cerita bahwa banyak teman-teman insinyurnya yang bekerja tapi hanya mendapat gaji sekedar cukup makan dan biaya kost seorang bujangan.

Kisah diatas dan masih banyak lagi yang serupa adalah realitas yang mencerminkan betapa kemiskinan masyarakat, khususnya masyarakat Muslim telah menjadi sebuah fenomena umum yang sangat memprihatinkan. Kemiskinan bukan saja menjangkiti kalangan tidak berpendidikan, melainkan sudah mewabah pada kalangan berpendidikan tinggi.

Beragam solusi telah dicoba untuk mengatasinya. Berbagai seminar, kursus, mata kuliah dan training-training kewirausahaan ditawarkan. Tapi semuanya seolah tidak sedikitpun yang memberikan penyelesaian yang memadai.

Setelah melalui pergumulan pemikiran dan pengalaman yang lama, penulis sampai pada kesimpulan bahwa kemisikinan bukanlah semata-mata masalah ekonomi. Kemiskinan adalah masalah karakter/mental yang dengan demikian penyelesaiannya harus melibatkan proses pendidikan sejak dini, bahkan mungkin sejak jabang bayi masih dalam kandungan.

Bila Anda menginginkan buah hati Anda kelak tidak jatuh dalam jurang kemiskinan, bekalilah mereka dengan karakter “kecerdasan finansial”. Sebuah karakter perpaduan antara perasaan, kalbu, emosi maupun kecerdasan tindakan.

Buku ini akan mengajak Anda mempersiapkan diri mendidik buah hati sebelum yang kita takutkan terlanjur terjadi sebagai persiapan agar anak-anak tidak menjadi generasi miskin sebagaimana firman Allah swt pada surah An-Nisa ayat 9 :

“Dan hendaklah takut kepada Allah, orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. ..”

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan ayat ini dengan mengutip sebuah hadis : “Sesungguhnya lebih baik meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya daripada meninggalkan mereka dalam keadaan miskin meminta-minta”.

Sebagian orang atau kelompok dalam Islam menyalah artikan kekayaan sebagai fitnah dunia ansich. Padahal bagi mereka para orang tua yang juga pegiat dakwah, bukankah dakwah kita akan sangat mudah menjadi magnet bagi orang lain ketika kita, dan generasi penerus kita kelak, adalah Muslim yang sejahtera secara ekonomi? Tidakkah ini justru bisa memberikan solusi yang nyata bagi kaum papa dan yang pasti, bisa berbuat lebih banyak untuk dakwah dan umat?. Sehingga kecerdasan finansial adalah penting untuk kita miliki, yang ketika dengannya akan lebih banyak kebaikan yang bisa kita lakukan.

Isi Buku

  • Muslim Harus Kaya?
  • Kaya VS Miskin
  • Memupuk Modal Sejak Bayi
  • Sekolah Tidak Mendidik Si Buah Hati Untuk Kaya (Teori doang!//Belajar tentang VS Belajar Menjadi//Ijazah Hanya Terpakai Selama 2 Detik)
  • Cerdas Finansial Sejak Dini                                                                                                (Membeli dan menjual//Memperkenalkan laba//Membeli baik Menjual baik, membeli jelek menjual jelek//Menyewa dan menyewakan//Memperkerjakan orang dan untung//Membeli, memelihara dan untung//Pertinggi jam terbang//Sunatullah aliran uang//Semua bisa kaya//Menabung baik, menabung jelek//Tidak takut gagal//Kreatif//Fisik yang kuat//Efisien dan tidak mubadzir)
  • Kapan Si Buah Hati Dewasa?
  • Speedometer finansial
  • Laporan Keuangan Bagus
  • Laporan Keuangan Jelek
  • Bila Si Buah Hati Telah Berhasil
  • Financial Quotient                                                                                                                (Mengukur skor FQ//Interdependensi tanpa batas//Bebas finansial dengan FQ2)
  • Bersama Si Buah Hati pada Usia Senja

Leave a Reply